Enzim bukan ukuran kerja hati
Di Indonesia, paket cek fungsi hati biasanya berisi SGOT dan SGPT, sering ditambah gamma GT, alkali fosfatase, bilirubin, dan albumin. Meski namanya «fungsi hati», sebagian besar baris itu bukan ukuran kerja hati. SGPT (nama lainnya ALT) dan SGOT (AST) adalah enzim yang tinggal di dalam sel hati dan baru bocor ke darah ketika sel itu teriritasi. Karena itu, pedoman perhimpunan gastroenterologi Amerika lebih suka menyebutnya «tes kimia hati», bukan tes fungsi.
Baris yang benar-benar menggambarkan kerja hati letaknya di tempat lain: albumin, protein yang dibuat oleh hati, dan angka pembekuan darah, yang bergantung pada protein buatan hati. Hasil dengan enzim tinggi dan albumin normal bercerita sangat berbeda dari hasil dengan enzim normal dan albumin rendah.
Perbedaan ini menjelaskan kejutan yang sering terjadi. SGPT seseorang bisa sedikit naik sementara hatinya bekerja dengan baik, dan hasil lab itu tidak sedang bertentangan dengan dirinya sendiri.
Apa saja yang diperiksa dalam cek fungsi hati?
Setiap baris punya tugasnya sendiri. Satu gambaran untuk masing-masing membantu membedakannya, apalagi urutannya di hasil lab sering tidak sesuai dengan cara membacanya.
- SGPT dan SGOTEnzim di dalam sel hati yang tumpah ke darah ketika sel itu teriritasi. SGOT juga ada di otot dan jantung, jadi kurang khas untuk hati.
- Alkali fosfatase dan gamma GTEnzim saluran empedu. Alkali fosfatase seperti petugas perawatan yang bekerja di tulang dan di hati; gamma GT bekerja seperti sensor polusi di sebuah pabrik.
- BilirubinPigmen kuning sisa sel darah merah yang sudah tua, mirip karat pada logam usang, yang dibuang hati ke dalam empedu.
- Albumin dan protein totalProtein yang dibangun oleh hati, dan baris yang paling mendekati ukuran sebenarnya tentang seberapa baik hati bekerja.
SGOT atau SGPT, mana yang lebih penting?
Tidak ada yang bisa dibaca sendirian. SGOT juga terdapat di otot dan organ lain, sehingga SGPT menjadi penunjuk yang lebih khas untuk hati. Namun keduanya dibaca berpasangan, dan perbandingan keduanya memberi informasi yang tidak dimiliki masing-masing.
Yang paling menentukan adalah polanya. Bila SGPT dan SGOT naik lebih tinggi daripada alkali fosfatase, iritasinya ada di sel hati itu sendiri; bila alkali fosfatase yang lebih menonjol, perhatian beralih ke aliran empedu. Pembagian inilah yang dipakai pedoman gastroenterologi Amerika untuk menyusun seluruh pemeriksaan lanjutan, dan nilainya lebih besar daripada satu angka mana pun.
Satu hal lagi yang perlu diketahui: SGPT yang benar-benar sehat lebih rendah daripada batas yang tercetak di banyak hasil lab. Pedoman yang sama menyebut sekitar 29 sampai 33 U/L untuk pria dan 19 sampai 25 U/L untuk perempuan, dan menyarankan agar nilai di atasnya dievaluasi. Angka yang dinyatakan normal menurut rentang laboratorium yang lebih lebar tetap layak ditanyakan.
Hepatitis B: alasan khas Indonesia untuk tidak berhenti di SGPT
Di Indonesia, hepatitis B adalah salah satu penyebab terpenting gangguan hati. Pedoman nasional tata laksana hepatitis B dari Kementerian Kesehatan mencatat bahwa Riskesdas 2013 menemukan HBsAg positif pada 7,1% sampel. Dalam Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, 2,4% sampel darah yang diperiksa reaktif HBsAg, dan 19,7% reaktif anti-HBc, tanda pernah terpapar virus ini: kira-kira satu dari lima orang.
Yang jarang diketahui: hepatitis B bisa bersembunyi di balik SGPT yang normal. Pedoman yang sama menjelaskan bahwa pada fase awal infeksi kronis, kadar virus bisa tinggi sementara SGPT tetap normal, dan pada pembawa virus yang tidak aktif SGPT juga normal. Jadi hasil cek fungsi hati yang bagus tidak menyingkirkan hepatitis B. Pertanyaan itu dijawab oleh tes HBsAg, pemeriksaan terpisah yang bisa Anda tanyakan kepada dokter.
Mengapa gamma GT paling sering disalahpahami
Gamma GT punya reputasi sebagai tes alkohol. Padahal bukan. Sebuah tinjauan tentang penanda konsumsi alkohol menegaskan bahwa pemeriksaan enzim hati tidak spesifik untuk alkohol, sehingga diperlukan beberapa tes lain untuk memilah berbagai kemungkinan penyebab.
Tinjauan yang sama mencatat bahwa SGPT dan gamma GT juga mengikuti resistensi insulin dan sindrom metabolik, bahkan ikut memperkirakan risiko yang tidak berhubungan dengan hati. Jadi gamma GT yang naik berarti ada sesuatu yang membuat hati Anda bekerja lebih keras. Alkohol hanya salah satu kemungkinan; berat badan, sejumlah obat, masalah saluran empedu, dan perlemakan hati adalah kemungkinan lain.
Perlemakan hati jauh lebih sering dari dugaan
Dalam sebuah studi terhadap 1.054 peserta medical check-up di Jakarta yang menjalani USG perut, perlemakan hati ditemukan pada 51,0% di antaranya. Angka ini tidak mewakili seluruh penduduk Indonesia, tetapi menunjukkan betapa seringnya kondisi ini pada orang dewasa yang datang untuk pemeriksaan rutin. Diagnosisnya ditegakkan dengan USG, bukan dengan tes darah.
Itulah latar belakang tempat banyak kenaikan enzim ringan dibaca, bersama berat badan, gula darah, dan lemak darah. Itu pula sebabnya hasil fungsi hati dibaca berdampingan dengan gula darah dan profil lipid, bukan sendirian.
Apa yang bisa menggeser hasil cek fungsi hati?
Gamma GT dibaca bersama alkali fosfatase: bila keduanya naik bersamaan, perhatian bergeser ke saluran empedu, bukan ke sel hati. Bilirubin dibaca bersama pemeriksaan darah lengkap, karena kadarnya juga naik ketika sel darah merah pecah lebih cepat dari biasanya, tanpa ada kerusakan hati.
Setiap baris juga dibaca menurut apa yang Anda lakukan sebelumnya. Olahraga berat menaikkan SGOT dari otot, infeksi virus yang baru lewat bisa mengiritasi hati untuk sementara, dan banyak obat, termasuk obat bebas, ikut menggeser angka-angka ini. Pedoman gastroenterologi Amerika meminta dokter meninjau obat resep, obat bebas, serta suplemen herbal sebelum mencari penyebab lain.
Apa yang dilakukan bila SGPT sedikit naik?
Kenaikan ringan itu sering terjadi dan sering hanya sementara, dan setiap rentang rujukan menempatkan sekitar 1 dari 20 orang sehat di luar batasnya. Langkah berikutnya biasanya bukan langsung pemeriksaan pencitraan, melainkan pemeriksaan ulang setelah beberapa minggu, sambil menyingkirkan penyebab yang jelas.
Bila kenaikan menetap, penyebab yang umum diperiksa lebih dulu: hepatitis virus, perlemakan hati, alkohol, dan obat, sebelum kondisi yang lebih jarang seperti kelebihan zat besi atau hepatitis autoimun. Di Indonesia, tes HBsAg biasanya termasuk langkah awal itu. Dokter Anda yang menentukan urutannya, berdasarkan pola hasil.